Jangan Jadi Seperti YAHOO!

Yahoo adalah sebuah perusahaan Internet multinasional yang berpusat di Sunnyvale, California, Amerika Serikat dan merupakan salah satu situs web terbesar di Amerika Serikat. Dan menurut sumber berita, sekitar 700 juta orang atau lebih dari setengah miliar pengunjung setiap bulannya ke situs-situsnya yang memiliki 30 bahasa. Semakin hari perusahaan teknologi muncul dan tenggelam, bahkan status perusahaan raksasa hari ini tak menjamin seperti apa nasib di masa depan. Yahoo yang dulu pernah sangat jaya, kini telah dijual dengan harga murah untuk perusahaan sekaliber itu, ‘hanya’ USD 4,8 miliar.

Tahun 1994 kisah yahoo pun dimulai, Jerry Yang, imigran asal Taiwan yang baru lulus dari Stanford berduet dengan David Filo, seorang programmer pendiam dari Lousiana. Mereka membuat semacam direktori website bernama David’s Guide to the World Wide Web. Direktori itu ternyata disukai pengguna internet. Tahun berikutnya, David’s Guide to the World Wide Web berganti nama menjadi Yahoo lalu Sequoia Capital menyuntikkan modal ke perusahaan tersebut serta menunjuk mantan eksekutif Motorola, Tim Kogle, sebagai CEO. Tapi Jerry Yang dan David Filo sendiri masih banyak terlibat. Masa itulah Yahoo berjaya tanpa tandingan.

Pada Tahun 1998, Yahoo adalah website paling populer dan telah go public dengan berjualan saham di bursa dan Pada Januari 2000, harga saham Yahoo mencapai titik puncak senilai USD 118. Namun kemudian, terjadilah apa yang disebut sebagai dotcom bubble, di mana banyak perusahaan internet berjatuhan. Harga saham Yahoo di tahun 2001 bahkan anjlok sampai USD 8.

Beruntungnya, Yahoo mampu bertahan di masa-masa sulit tersebut. Tampuk kepemimpinan pun berganti dengan ditunjuknya Terry Semel, mantan eksekutif Warner Brothers, sebagai CEO menggantikan Kogle. Di masa inilah akhirnya Yahoo melewatkan kesempatan besar yang pasti mereka sangat sesali. Di tahun 2002, yahoo bisa saja membeli Google. Namun karena kurang gigih, aksi akuisisi tersebut tidak pernah terjadi. Baca juga artikel lainnya: Pengertian Portal WEB.

Kemudian di tahun 2006, hampir saja Yahoo membeli Facebook. Namun Terry Semel menurunkan tawaran dari USD 1 miliar ke USD 850 juta. Mark Zuckerberg yang sebenarnya memang kurang berniat menjual Facebook akhirnya benar-benar mantap menolak tawaran Yahoo. Dan seperti diketahui, Google dan Facebook kemudian menjadi raksasa yang melahap bisnis Yahoo. Kedua perusahaan itu tidak dapat dipungkiri menjadi salah satu alasan mengapa Yahoo terpuruk di kemudian hari.

Tentu saja tidak semua strategi Yahoo gagal. Pada tahun 2005, Jerry Yang mengatur pembelian 40% saham perusahaan e-commerce asal China, Alibaba, senilai USD 1 miliar. Sebuah pembelian berisiko, namun kemudian sukses besar karena Alibaba berkembang jadi raksasa e-commerce di China. Saat ini, saham Yahoo di Alibaba itu nilainya sekitar USD 80 miliar, jauh lebih besar dari nilai Yahoo sendiri.

Waktu pun berlalu. Tahun 2008, Yahoo mulai menunjukkan tanda-tanda kemunduran. Microsoft datang memberi penawaran senilai USD 44,6 miliar. Namun ditolak oleh Jerry Yang yang saat itu CEO Yahoo, karena menganggap tawaran itu terlampau rendah. Penolakan itu terbukti kebijakan yang salah dan lagi-lagi berujung penyesalan terbesar buat yahoo, karena nilai Yahoo terus menurun. Tiga tahun setelah tawaran Microsoft itu, kapitalisasi pasar Yahoo hanya USD 22,24 miliar.

Begitulah, Yahoo tak pernah mampu bangkit seperti zaman keemasannya dahulu walau sudah bergonta-ganti CEO. Kapitalisasi pasar mereka makin anjlok, dan PHK pun terpaksa dilakukan serta operasional kantor di berbagai negara termasuk Indonesia ditutup. Episode Yahoo sebagai perusahaan raksasa dan menjadi salah satu situs web terbesar di Amerika Serikat berakhir setelah direbut Verizon dengan angka ‘hanya’ USD 4,8 miliar.

Add comment