Krisis Chipset Melanda Dunia

Wah krisis chipset kini tengah melanda dunia, bagaimana itu bisa terjadi?

Pertama-tama, aku mau jelasin terlebih dahulu pengertian dari chipset itu sendiri.

Secara wikipedia, Chipset merupakan IC (intergrated circuit) ukuran kecil yang pada computer merupakan layaknya polisi lalu lintas pada papan induk (motherboard), mengarahkan aliran data dan menentukan peranti apa yang di dukung oleh pc.

Singkatnya, chipset adalah salah satu komponen terpenting buat smartphone, PC, otomotif, atau perangkat elektronik lainnya.

Kelangkaan pasokan chipset diperkirakan akan terus dijumpai hingga akhir tahun tahun 2021 ini menurut laporan dari situs MarketWatch.

Lantas, apa penyebabnya? Dan bagaimana dampaknya bagi industri gadget maupun otomotif ?

Apakah Indonesia juga ikut terkena dampaknya?

Mari kita bahas.

 Bisa di bilang, chipset merupakan otak yang menentukan kemampuan sebuah perangkat.

Misalnya pada ponsel, chipset itu tugasnya sebagai penghubung antara hardware dan software agar ponselnya bisa berjalan seperti yang diinginkan, yaitu mengatur kamera, pemrosesan data, grafis dan lain sebagainya. Baca juga: Bagaimana Tiongkok membangun aplikasi sendiri.

Berbagai macam industry yang mengandalkan chip semikonduktor tengah kelimpungan karena adanya kelangkaan chipset secara global.

Mulanya, krisis ini telebih dahulu di alami oleh industry otomotif hingga belakangan terus meluas ke industry ponsel.

Seperti yang kita tahu, pandemic virus corona ini berdampak pada semua aspek kehidupan. Salah satunya turut menekan pasokan chipset dan membuat rantai pasokan terganggu sehingga menyebabkan kekurangan chipset di berbagai industri.

Permintaan yang tinggi akibat ledakan generasi terbaru ponsel yang siap dengan 5G juga semakin memperburuk kekurangan kapasitas chipset, sementara itu produksi pembuat chipset dikurangi akibat pandemic.

Faktor lain pemicu krisis ini juga disebabkan karena perang dagang yang terjadi antara amerika serikat dengan tiongkok yang tidak pernah berkesudahan.

Beberapa waktu lalu, produsen chipset asal tiongkok, Semiconductor Manufacturing International Corporation atau yang disingkat dengan SMIC mendapat pembatasan dari pemerintahan Trump.

Mantan presiden Amerika Serikat, Donald Trump memutuskan untuk membatasi bisnis produsen chipset asal tiongkok itu.

Otoritas setempat beralasan SIMC sudah dimasukkan ke dalam daftar hitam untuk perlindungan keamanan secara nasional di Amerika Serikat.

Akibat kebijakan itu, para pelaku industry otomotif amerika serikat harus memindahkan produksi chipnya ke Taiwan Semiconductor Manufacturing Corporation atau yang biasa disebut dengan TSMC.

Tapi akhirnya perusahaan itu mulai kewalahan. Pemasok mobil mengkonfirmasi TSCM tidak bisa memenuhi permintaan yang disebabkan karena pemesanan menjadi sangat banyak.

Alhasil itu memaksa sejumlah pelaku bisnis harus membatasi produksinya. Padahal permintaan pembelian justru bertambah selama pandemic.

Volkswagen yang merupakan salah satu produsen otomotif terbesar di dunia terkena dampak yang besar atas krisis ini. Stephan wollenstein selaku CEO Volkswagen di tiongkok mengatakan kalau perusahaannya telah kehilangan sekitar 10.000 unit mobil pada desember 2020 lalu.

Produsen mobil mewah audi juga terpaksa menunda produksi dan harus membuat ribuan pekerjanya dirumahkan.

Tidak hanya di amerika, krisis pasokan chip juga mempengaruhi produksi dari produsen otomotif jepang. Toyota motor corporation juga ikut menghentikan aktivitas pabriknya di Guangzhou.

Honda ikut juga mengumumkan penghentian produksi pabriknya di Swindon, inggris. Tak ketinggalan, Nissan juga mengurangi produksi Nissan note di salah satu pabriknya di jepang akibat kekurangan pasokan chip. Produksinya akan dipangkas menjadi 5.000 unit yang semula direncanakan 15.000 unit.

Seperti yang sudah aku bilang di awal tadi, krisis ini telebih dahulu di alami oleh industry otomotif hingga terus meluas ke industri ponsel.

Lantaran krisis chip semikonduktor global ini, pemasok kebutuhan untuk smartphone turut kena imbasnya.

Kelangkaan chipset ini membuat industry otomotif harus bersaing dengan industry gadget dan elektronik untuk mendapatkan pasokan chipset.

Qualcomm yang merupakan salah satu perusahaan penyedia prosesor belakangan di kabarkan tengah mengalami kekurangan pasokan chip dan kesulitan memenuhi kebutuhan industry gadget.

Pasalnya, chip qualcomm juga dibuat menggunakan berbagai komponen dari pabrikan semikonduktor seperti SMIC dan TSMC yang sudah duluan mengalami kendala produksi.

Kesulitan pasokan yang melanda qualcomm akan berpengaruh besar terhadap pembuatan ponsel yang mengandalkan perusahaan untuk komponen utama.

Pada bulan lalu, merk ponsel ternama seperti samsung terpaksa menutup pabrik chipnya di Texas lantaran badai musim dingin.

Padahal pabrik samsung ini ikut berperan dalam memasok ketersediaan chipset sampai 5 persen dari pasokan chip buat ponsel dan komputer di seluruh dunia.

Dari penutupan pabrik samsung ini, ketersediaan pasokan chip semikonduktor global akan turut terdampak ke produk apple.

Soalnya, pabrik samsung tersebut merupakan produsen chip layar OLED yang digunakan oleh produk apple, iphone.

Krisis chipset ini memperparah produksi iphone yang dimana perusahaan telah menutup pabrik produksi di tiongkok maupun tempat lain diseluruh dunia.

Produsen ponsel asal tiongkok, xiaomi juga terkena dampaknya. Perusahaannya kini tengah bergulat dengan masalah kenaikkan biaya produksi akibat kekurangan chipset untuk proses produksi ponsel.

Penimbunan komponen yang berlebihan juga menjadi faktor pemicu dari krisis chipset ini. Lantaran Huawei technologies corporation mulai menimbun komponen buat memastikan kelangsungan hidupnya dari sanksi amerika serikat yang melumpuhkannya.

Lalu, bagaimana pengaruh krisis chipset ini terhadap Indonesia?

Beberapa pabrikan di Indonesia menyatakan jika kegiatan ekonomi mereka masih belum terkena dampak oleh krisis tersebut. Contohnya PT. Toyota motor manufacturing Indonesia (TMMIN) dan PT. honda prospect motor (HPM) yang menyatakan jika krisis tersebut belum mempengaruhi kegiatan produksi pabrikan.

Direktur administrasi, korporasi dan hubungan eksternal TMMIN, Bob Azam memastikan jika kegiatan produksi pada perusahaannya masih berlangsung dengan normal.

Sementara itu, business innovation and sales marketing PT HPM, Yusak Bily juga menyatakan kegiatan produksi di dalam negeri belum terkendala oleh krisis komponen chip semikonduktor.

Yusak billy menambahkan jika tingginya tingkat komponen dalam negeri dari produk kendaraan roda empat milik honda membuat kegiatan produksi berjalan dengan normal di tengah krisis chipset yang melanda dunia.

Nah jadi Indonesia masih aman ni dari krisis chipset yang sedang melanda dunia sekarang ini. Tapi semoga kelangkaan chipset ini bisa cepet pulih ya agar Indonesia tidak ikut terkena dampaknya dan agar produsen-produsen gadget maupun otomotif tersebut tidak sampai harus memecat pegawainya. Karena kalau produksinya berkurang, income perusahaan juga ikut menurun dan otomatis nantinya bakal ada pengurangan pegawai.

Add comment