Selamat Datang Apple | Made In Vietnam

Made in Vietnam

Taukah kalian sejak setahun lalu beberapa perusahaan besar asal Amerika Serikat seperti Apple, Google, dan Microsoft berencana untuk memindahkan pabriknya dari China.

Siapa yang tidak tahu tentang apple ? 

Iya apple yang kita kenal dengan bentuk logo apple nya yang udah kegigit itu

Pasti kalian semua tahulah kan tentang iphone, ipad, macbook yang bisa dibilang kalau ga pake iphone dijaman sekarang itu ga gaol, ga mevah, ga keliatan waw.

Tapi taukah kalian apple yang selama ini dibuat di Tiongkok sebentar lagi  akan menjadi made in Vietnam?

Adanya perang dagang yang terjadi antara Amerika Serikat dengan China sejak beberapa tahun lalu membuat banyak perusahaan asal Amerika Serikat berupaya untuk memindahkan pabriknya keluar dari China. Baca juga: Handphone bisa mendengar pembicaraan ?

Tujuannya adalah untuk menghindari tarif impor yang sangat tinggi.

Sebagaimana yang kita ketahui, dibawah kepemimpinan Trump. 

Amerika Serikat menarik tarif impor yang tinggi untuk produk China. Begitu juga tarif ekspor dari China semakin mahal untuk importir Amerika.

Maka dari itu, banyak perusahaan-perusahaan yang memutuskan untuk mencari lokasi investasi baru.

Bahkan panasnya hubungan Amerika Serikat dengan China ditengah pandemic covid-19 ini semakin membuat persaingan sengit antara kedua negara tersebut.

Tapi sebetulnya, kebanyakan perusahaan yang ada di China sudah merencanakan kepindahan pabriknya walaupun biaya di China sudah mulai membaik.

Akan tetapi masih banyak juga yang ragu karena ketidakpastian serta kerumitan mengenai kepindahan tersebut. 

Akibat dari perang dagang antara Amerika Serikat dengan China yang masih terus berlanjut, membuat Apple meminta Foxconn Technology Group yang merupakan salah satu produsen produk elektronik terbesar di dunia yang juga membuat produk apple untuk segera angkat kaki dari China ke Vietnam.

Menurut laporan Nikkei, Foxconn akan memindahkan lebih dari 30% lini produksinya keluar China serta telah melakukan investasi USD 270 juta di Vietnam untuk meningkatkan produksinya.

Foxconn juga diketahui tengah menjajaki pembangunan pabrik di provinsi Bac Giang di Timur Laut Vietnam dan rencananya realokasi akan dimulai ditahun 2021.

Namun untuk mengurangi ketergantungan dengan China bukanlah hal yang mudah. Sebab, rantai pasokan Amerika Serikat tertanam dalam dengan manufaktur China.

Saat perang dagang antara Amerika Serikat dengan China sedang berkecamuk, para pengusaha gencar merelokasi industrinya dari China ke wilayah-wilayah baru. 

Alih-alih ke Indonesia, perusahan-perusahaan di China lebih banyak merelokasikan industrinya ke negara berkembang lain seperti Vietnam, Thailand, Kamboja, dan Malaysia. 

Vietnam merupakan negara paling banyak dituju oleh para investor China untuk berinvestasi.

Presiden Joko Widodo mengaku kecewa karena perusahaan-perusahaan  asing lebih memilih berinvestasi dinegara lain ketimbang di Indonesia. Dia mendapat laporan dari Bank Dunia bahwa ada 33 perusahaan yang keluar dari China tapi tidak ada yang ke Indonesia.

Lalu kenapa Indonesia tidak dipilih ?

Kilas balik pada 2012 lalu, Foxconn sempat menjadi pemberitaan di media massa karna rencananya yang akan membangun pabrik di Indonesia. 

Namun entah kenapa, rencana tersebut kandas ditengah jalan. 

Persoalan lahan menjadi isu utama rencana investasi pabrik di Indonesia dibatalkan.

Pada saat itu, posisi yang diincar merupakan Kawasan Industri Cikande Serang.

Foxconn juga sempat berunding dengan pemerintah pusat untuk diberikan insentif, yaitu berupa lahan gratis. Soalnya di China, Foxconn Technology Group diberikan insentif tersebut dari pemerintah setempat. 

Pemerintah Indonesia juga pernah menjadi perantara kerjasama antara Foxconn dengan mitra lokal, salah satunya Agung Sedayu Group. 

Namun perundingan mengenai penyediaan lahan itu pun tak juga selesai.

Menurut Direktur Eksekutif Center of Reform on Economic (CORE) Muhammad Faisal, ada beberapa faktor yang membuat Vietnam dipilih sebagai tujuan investasi ketimbang Indonesia. 

Nah faktor tersebutlah yang membuat daya saing investasi Vietnam lebih baik dari Indonesia. 

Mulai dari upah yang relative lebih rendah (walaupun tidak selalu lebih rendah dari Indonesia sebetulnya), peraturan ketenagakerjaan yang lebih luwes.

Lalu posisi geografis Vietnam yang strategis karna bertetangga dengan China juga menjadi pertimbangan bagi investor untuk berinvestasi ke Vietnam. 

Ditambah lagi sistem politiknya yang lebih sentralistik sehingga kepastian logistic lebih besar di Vietnam, lebih konsisten yang artinya apa yang dikatakan pusat, itulah yang dilakukan daerah. Sementara kalau di Indonesia kan tidak selalu bisa begitu.

Berdasarkan laporan Doing Business 2020 yang dirilis oleh Bank dunia (World Bank), Indonesia berada pada peringkat 73 dari 190 negara di dunia dalam kemudahan berusaha (ease of doing).

Peringkat tersebut lebih rendah jika dibandingkan dengan negara Asia lainnya, singapura tetap bertahan pada posisi ke 2, Malaysia mengalami peningkatan diposisi ke 12 dari posisi ke 14 sebelumnya. Thailand juga mengalami peningkatan peringkat ke 21 dari  peringkat ke 27 sebelumnya.

Add comment