Tokopedia & Traveloka bakal IPO

Tokopedia sendiri pertama kali didirikan oleh Wiliam Tanuwijaya dan Leontinus Alpha Edison pada tahun 2009. Dan di 2017 lalu, startup asal Indonesia ini mendapatkan status unicorn. 

Tokopedia juga telah mengklaim menguasai 1,5% perkonomian Indonesia ditahun 2020 dan tercatat tak kurang dari 7,2 juta UKM sudah bergabung dengan jumlah pengguna aktif bulanan mencapai 100 juta pengguna. 

Sedangkan traveloka merupakan startup travel di asia tenggara yang bestatus unicorn sejak 2017 lalu yang berpusat pada bidang pemesanan hotel dan tiket yang didirikan pada tahun 2012 lalu oleh Ferry Unardi, Derianto Kusuma dan Albert Zhang.

Saat ini dua startup lokal itu dikabarkan tengah menyusun rencana penjualan saham perdana mereka di bursa efek Indonesia. 

Benarkah para investor sudah tidak mau menyuntikkan dana mereka lagi dan memaksa dua startup lokal itu untuk melakukan IPO ?

Bicara soal IPO, mungkin beberapa dari temen-temen belum mengetahui apa itu IPO dan tujuan dari IPO itu buat apa. Jadi aku mau kasih tau dulu apa itu IPO dan tujuannya dari IPO itu sendiri.

Bagi temen-temen yang sudah terjun dalam dunia pasar saham tentu sudah tidak asing lagi dengan istilah IPO ini. IPO sendiri merupakan singkatan dari Initial Public Offering, dimana perusahaan yang melakukan IPO akan menjual sahamnya ke public. Baca juga: DEFI (Decentralized Finance).

Nah tujuannya itu buat dapetin dana tambahan guna melancarkan operasional perusahaan. Jadi, dengan melakukan IPO, saham perusahaan  bukan lagi milik perorangan, melainkan dapat dimiliki oleh public, istilahnya itu sudah Go Public. 

Nilai sebuah perusahaan yang sudah Go Public juga akan meroket dimasa mendatang apabila perusahaan tersebut mampu meningkatkan kinerjanya secara optimal.

Waw bisa kita lihat dari gambar ini kalau tokopedia menempati posisi kedua dari empat besar jajaran startup unicorn Indonesia, lalu selanjutnya di posisi ketiga ada traveloka. 

Pandu Patria Sjahrir selaku komisaris BEI, berpendapat jika perusahaan-perusahaan teknologi itu bisa mencatatkan sahamnya didalam negeri maka hal itu dapat meningkatkan kapitalisasi pasar di BEI dan nilai transaksi di pasar saham.

Nah apakah temen-temen tahu kalau selama ini para startup melakukan strategi “bakar uang” dalam bisnisnya ?

Hmm bakar uang dikalangan startup Indonesia, terutama startup-startup besar, seperti Tokopedia dan Traveloka itu ya sudah tidak asing lagi, entah kenapa seperti sebuah budaya yang harus dilakukan.

Istilah bakar uang ini ditujukan kepada startup yang memakai uang investor untuk pengembangan startup itu sendiri, tanpa peduli pada laba yang didapatkan. 

Ya tujuannya itu hanya focus untuk membangun asset jangka panjang supaya valuasi atau nilai asset dari startup itu meningkat dari waktu ke waktu.

Nah bakar uang yang terus menerus inilah yang membuat startup berstatus unicorn di Indonesia ini mengalami kerugian alias belum untung. 

Tokopedia sendiri masih mencatatkan kerugian sejak didirikan 11 tahun yang lalu dengan menjalankan strategi bakar uang pada bisnisnya, dan kalau melihat perspektif jangka panjang, tokopedia tentunya tidak bisa dong terus menggunakan strategi bakar uang dalam bisnisnya, ia harus mulai menghasilkan keuntungan supaya bisa bertahan dalam waktu yang lama.

Ternyata hal itu sudah disadari ni oleh William Tanuwijaya selaku CEO dan Co-founder dari Tokopedia dalam usaha pengembangan bisnisnya, dimana satu-satunya opsi yang dapat digunakan adalah dengan mencari pendanaan dari pasar saham, yaitu dengan melakukan IPO yang saat ini sedang direncanakan oleh tokopedia.

Katanya tokopedia sudah menunjuk dua perusahaan jasa investasi dan penjamin emisi, Morgan Stanley dan Citi sebagai penasihat untuk mengakselerasikan rencana mereka menjadi perusahaan go public. 

Dalam rencana IPO ini, Tokopedia akan melakukan merger dengan Bridgetown Holdings Limited Company (Ltd), sebuah perusahaan Special Purpose Asquistion Company (SPAC) yang di dukung oleh miliarder Richard Li dan Peter Thiel. 

Tapi negoisasi itu masih ditahap awal dan Bridgetown holdings masih menjajaki struktur serta kelayakan kesepakatannya dengan tokopedia.

Salah satu cara tokopedia agar lebih cepat tercatat di bursa AS adalah dengan melakukan penjualan ke SPAC (Special Purpose Asquistion Company) atau perusahaan akuisisi bertujuan khusus. Namun William Tanuwijaya belum memutuskan hingga saat ini.

Beberapa informasi juga mengatakan kalau tokopedia melakukan IPO untuk mengincar dana US$ 1 miliar. Dan menurut beberapa sumber dari Blooomberg, tokopedia akan berstatus decacorn kalau tokopedia melakukan IPO di bursa efek Indonesia dan di bursa saham amerika serikat.

Sama halnya juga dengan tokopedia, desas desus terdengar kalau perusahaan rintisan Indonesia, yaitu traveloka yang berstatus unicorn ini juga bakal mencatatkan saham dibursa alias go public dan akan merger dengan special purpose acquisition company (SPAC).

Henry Hendrawan selaku president of traveloka group operation mengkonfirmasi terkait kabar tersebut. Tapi sayangnya ia tidak mengungkapkan dengan detail kapan tepatnya traveloka itu bisa go public.

Traveloka juga berencana menjalankan dual listing atau mencatatkan saham di dua bursa saham, yaitu di Indonesia dan amerika serikat. Menurut sumber yang mengetahui masalah ini, kalau traveloka go public, ia mengincar valuasi US$ 5-6 miliar.

Dan jika tokopedia ataupun traveloka berhasil melakukan dual listing yaitu di amerika serikat dan indonesia, mereka bakal menjadi perusahaan kedua setelah PT. Telekomunikasi Indonesia (Telkom) yang memiliki listing di amerika serikat dan indonesia.

Terus menurut kalian, kenapa para investor seperti alibaba group, dan softbank sebagai sumber pendanaan pada tokopedia, begitu juga investor yang mendanai traveloka seperti PT elang mahkota teknologi tbk (emtek group), dan expedia, sudah tidak mau lagi menyutikkan dana nya pada kedua startup tersebut? 

Ya seperti yang aku sudah jelasin tadi kalau kedua startup lokal itu memakai strategi bakar uang terus menerus, nah hal itulah yang menyebabkan kedua startup itu belum untung-untung sampai sekarang.

Makanya itu para investor mendesak tokopedia dan traveloka untuk melakukan IPO. Ya itu tu supaya uang mereka kembali lebih cepat. 

Dan strategi exit melalui IPO inilah menjadi satu-satunya pilihan tokopedia dan traveloka dalam mengembangkan bisnisnya.

 

Add comment